Tuesday, December 8, 2009

Blog Bumiayu: Al-quran dan Gempa di Indonesia

Indonesia secara berturut-turut dilanda gempa bumi dengan kekuatan yang sangat dahsyat. Ratusan korban bergelimpangan, ribuan lainnya luka berat dan ringan, bangunan porak poranda.

Ini jelas peringatan yang jelas dari Allah SWT. Di Indonesia telah terjadi 4 kali gempa bumi dan di dalam Al-Quran telah tertulis 4 peringatan. Waktu terjadinya gempa sama dengan peringatan Allah dalam Al-Quran. Keempat gempa itu ialah gempa di Tasik pukul 15.04, gempa di Padang pukul 17.16 beserta gempa susulan pukul 17.58, dan gempa di Jambi pukul 8.52.

Lihat di dalam Al-Quran ! Jam terjadinya gempa mewakili urutan surat di dalam Al-Quran dan menitnya mewakili ayat di dalam surat tersebut. Baca artinya dan temukan peringatan dari Allah SWT.


1. Gempa di Tasik (Jawa Barat) pukul 15.04

Perhatikan Al-Quran Surat 15 ayat 4 yang artinya

Dan Kami tiada membinasakan sesuatu negeripun, melainkan ada baginya ketentuan masa yang telah ditetapkan

2. Gempa di Padang pukul 17.16.

Perhatikan Al-Quran surat 17 ayat 16 yang artinya

Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya

3. Gempa susulan di Padang pukul 17.58

Perhatikan Al-Quran surat 17 ayat 58 yang artinya

Tak ada suatu negeripun (yang durhaka penduduknya), melainkan Kami membinasakannya sebelum hari kiamat atau Kami azab (penduduknya) dengan azab yang sangat keras. Yang demikian itu telah tertulis di dalam kitab (Lauh Mahfuzh)

4. Gempa di Jambi pukul 8.52

Perhatikan Al-Quran surat 8 ayat 52 yang artinya

(keadaan mereka) serupa dengan keadaan Fir’aun dan pengikut-pengikutnya serta orang-orang yang sebelumnya. Mereka mengingkari ayat-ayat Allah, maka Allah menyiksa mereka disebabkan dosa-dosanya. Sesungguhnya Allah Maha Kuat lagi amat keras siksaan-Nya

Maha Benar Allah dengan segala firmannya. Itulah peringatan yang sangat nyata dari Allah SWT untuk negeri kita, yaitu tanah air Indonesia.

Sekarang marilah kita renungkan hal ini bersama-sama untuk mengintrospeksi diri kita, apakah amal perbuatan kita selama ini sudah cukup atau belum untuk menjamin kita bisa masuk ke dalam surga yang sangat indah. Kita tidak pernah tahu kapan bencana itu akan terjadi dan kapan bencana itu akan merenggut nyawa kita. Jika di saat bencana itu datang akan merenggut nyawa kita dan ternyata kita baru sadar bahwa selama ini amal ibadah kita kepada Allah sangat kurang, tentu saja itu sudah sangat terlambat. Oleh karena itu, persiapkanlah bekal amal ibadah itu mulai dari sekarang. Jika selama hidup ini kita selalu berbuat salah, bertaubatlah dari sekarang selagi masih ada kesempatan untuk bertaubat. Jika selama hidup ini kita selalu taat kepada Allah, pertahankan ketaatan itu dan jika bisa tingkatkan terus ketaatan kita dengan selalu melakukan dzikir dan shalat malam. Sesungguhnya urusan sakaratul maut adalah rahasia ilahi dan tidak ada satu pun di antara makhluknya yang mengetahui kapan itu akan terjadi.

Penting!! Sebaiknya Anda Baca Juga Link Berikut:
@ Kumpulan Tips dan Trik Belajar, Kumpulan Rumus dan Trik Hitung Cepat Matematika
@ Bukan Berita Biasa
@ Kumpulan Artikel Tentang Kiamat dan Tanda-tandanya, Tentang Gempa, Tentang Ibadah
@ Kumpulan Tutorial Blog Lengkap, Tentang Bisnis Internet dan Monetisasi Blog
Readmore »» Baca selanjutnya...

Thursday, December 3, 2009

Blog Pacinan: Dahsyatnya Sholat Tahajud

kiamat,surga,neraka,sholat
Seorang pencuri masuk ke rumah Ahmad bin Khazruya, seorang Ulama yang wara, dan sufi besar. Ia sibuk mencari barang berharga untuk dicuri, tetapi ia tak menemukan apa-apa. Ketika pencuri itu hendak pergi dengan kecewa, Ahmad, sang sufi, memanggilnya.

“Anak muda, ambillah ember ini dan timba air dari sumur. Berwudhulah kau dengan air itu dan dirikanlah salat. Kalau ada sesuatu, nanti aku berikan padamu, supaya kau tak pulang dengan tangan hampa,” ujar Ahmad.

Pencuri itu mengikuti apa yang diperintah Ahmad.

Ketika pagi tiba, seorang pria dari kota datang membawa kantong berisi seratus dinar dan memberikannya pada Ahmad. Ahmad lalu memberikannya pada si pencuri.
“Bawalah ini sebagai hadiah untuk salat malammu,” ia berkata.

Tubuh pencuri itu bergetar. Ia langsung menangis terisak-isak.
“Aku telah salah mengambil jalan,” ucapnya di sela tangisan, “tapi semalam saja aku bekerja untuk
Tuhan, Dia telah memberiku ganjaran seperti ini….”
Pencuri itu bertaubat, kembali kepada Tuhan. Ia menolak mengambil wang emas itu, dan menjadi salah
seorang murid setia Ahmad bin Khazruya.

“Shalat adalah tempat bermunajahnya seorang hamba, tempat membersihkan hati dari bermacam-macam kotoran, terbentang pula di dalam salat itu medan kerahasiaan Allah, dan memancarkan dari dalamnya cahaya yang menyinari hati dan pikiran si hamba yang sedang salat.” (Syekh Ahmad bin Muhammad Ataillah , Kitab HIkam )

Seperti itulah Dahsyatnya shalat Tahajud,, Wallahu a’lam

Sumber http://www.facebook.com/notes/muhammad-hasbi-fathurrahim/hadiah-shalat-malam-qiyamul-lail/201457051833
Readmore »» Baca selanjutnya...

Blog Kalierang: Ibadah Haji Tahun 2200

Ibadah haji adalah kewajiban manisia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjanjian ke Baitullah

“Ibadah haji adalah kewajiban manisia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjanjian ke Baitullah. Barangsiapa mengingkari (kewajiban haji) maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam).”(Q.S. Ali Imran 3: 97)

Sejak Rasulullah saw. melakukan Haji Wada, hukum haji tetap tidak berubah, yakni fardhu ‘ain. Ketika itu, (Haji Wada) jemaah hanya sekitar 90.000 orang. Semakin hari, jumlahnya dipastikan semakin bertambah.

Allah swt. mengundang semua manusia untuk mengunjungi ‘rumah-Nya’. Ia tidak pernah membatasi jumlah jamaah. Dalam salah satu hadisnya, Rasulullah saw. bahkan pernah mengancam, “Barangsiapa yang mampu namun tidak mau beribadah haji maka akan mati sebagai Yahudi dan Nasrani.

Haji merupakan kewajiban sekaligus hak asasi setiap muslim sampai kiamat. Sistem pembatasan kuota per negara 1 banding 1000 orang yang berlaku saat ini, hanyalah solusi temporer. Alasannya, agar ibadah haji bisa nyaman. Pemahaman ini sangatlah keliru.“Al Hajju jihadu” sàbda Rasulullah saw. Haji itu perjuangan. Susah payah dan berdesak-desakan, tidak ada syarat harus nyaman dan longgar. Semakin banyak orang bisa berangkat haji, walaupun tidak nyaman, semakin sukses tugas pemerintah muslim di dunia.

Menurut World Religious Statistics, di tahun 1900, prosentase umat muslim di dunia berjumlah 12,4% dari seluruh penduduk. Disinyalir akan menjadi 23,5% di tahun 2200. Bahkan, Samuel P Huntington pengarang The Clash of Civilizations, berani memperkirakan jumlahnya Iebih banyak dari itu. Menurutnya, di tahun 2025 saja umat muslim sudah akan berjumlah 30% dari jumlah penduduk, melebihi umat Kristen yang hanya 25%. Walhasil jumlah muslim 200 tahun yang akan datang diperkirakan mendekati 3 miliar orang. Batas usia rata-rata saat itu 97 tahun, dengan kesehatan yang baik. Penghasilan tahunan rata-rata diprediksi USD.25.860. Rasulullah saw meramalkan bahwa di akhir zaman, orang Islam akan sedemikan kaya, sampai-sampai mereka bersusah payah mencari para mustahik (orang yang berhak menerima zakat) namun tetap tidak ditemukan.

Kalaulah ternyata hasilnya tidak seperti itu, misalnya bila di tahun 2200 dianggap masih ada sepertiga penduduk yang agak miskin dan sepertiga lagi sibuk atau berhalangan, paling tidak sepertiga sisanya siap dan mampu naik haji. Saat itu, transportasi akan semakin canggih dan murah. Peter Lorie dalam History of The Future memprediksikan, di tahun 2019 akan mulai beroperasi pesawat penumpang hypersonic, berkecepatan Mach 25, sehingga Jakarta-Jeddah bisa ditempuh dalam 50 menit. Scramjet yang berbahan bakar udara dan kendaraan dengan energi magnetik membuat biaya transport semakin murah.

Tahun 2150 angkutan massal akan digratiskan. Semiliar muslim tamu undangan Allah harus bisa ditampung, tanpa dibatasi kuota lagi. Saat ini saja, Pemerintah Arab Saudi sudah merencanakan menampung 14 juta jamaah haji dan umrah dalam 20 tahun mendatang. Jembatan jumrah di Mina dalam 4 tahun akan dibuat empat tingkat, menampung 0,5 juta orang per jam. Padang Arafah yang luasnya 25 km2 bisa saja di tahun 2200 dibuat seratus lantai untuk menampung semiliar orang yang wukuf. Demikian juga Masjidil Haram seluas 32 hektar dan kawasan sekitarnya seluas 27 km2 harus dibongkar, diratakan sampai perbukitan, dan dibangun seratus tingkat untuk tawaf dan sa’i, lantainya tembus pandang searah. Seluruh kota ditutup kubah raksasa tetrahedron dari bahan filamen transparan yang memgubah sinar matahari menjadi tenaga listrik.

Hotel dan gedung-gedung lain dibangun jauh di balik perbukitan Mekkah dan dihubungkan ke masjid melalui terowongan-terowongan dengan ban berjalan. Beberapa Airport Haji berkapasitas besar dibangun di tempat miqat sesuai hadis Nabi, yakni di Zulhulaifah, Qarnul Manazil, Yalamlam, dan Juhfah. Pergerakan jamaah antara Mekah-Mina-Muzdalifah-Arafah melalui ban berjalan. Di Mina dibuat seratus lantai untuk jamaah mabit 3 hari yang dihubungkan dengan jembatan tempat melontar jumroh. Jutaan binatang kurban diproduksi dengan metoda kloning.

Seluruh pembangunan prasarana di atas dibiayai oleh sindikasi keuangan bank tanpa riba dari seluruh negara Islam. Sistem transportasi yang efisien membuat jamaah haji tahun 2200 cukup berada di tanah suci selama 6 hari saja. Ini semakin mempermurah biaya naik haji, yang membuat semakin banyak lagi umat Islam yang mampu berangkat dari tahun ke tahun. Itu bukan khayalan apabila semua pihak menanam niat mulia yang sama: “Menjadikan haji sedemikian mudah dan murah”, sehingga praktis setiap muslim bisa melaksanakannya. Adapun mereka yang masih berhalangan, bisa melaksanakan haji secara virtual reality di tempat masing-masing, mirip teknologi simulator pelatihan pesawat terbang. Dengan proyektor Kabah hologram, visualisasi suasana tanah suci, simulasi suara, suhu, dan stimulan pada syaraf otak, setiap orang bisa “mengalami” haji secara realistis tanpa pergi dari rumahnya. Yassiru wala tu 'assiru
Readmore »» Baca selanjutnya...

Blog Kalilangkap: Penyakit Ummat Islam Di Akhir Zaman

Dalam sebuah hadits Nabi shollallahu ’alaih wa sallam mengabarkan bahwa kelak di masa yang akan datang ummat Islam akan berada dalam keadaan yang sedemikian buruknya sehingga diumpamakan sebagai laksana makanan yang diperebutkan oleh sekumpulan pemangsanya. Lengkapnya hadits tersebut sebagai berikut:

Bersabda Rasulullah shollallahu ’alaih wa sallam “Hampir tiba masanya kalian diperebutkan seperti sekumpulan pemangsa yang memperebutkan makanannya.” Maka seseorang bertanya: ”Apakah karena sedikitnya jumlah kita?” ”Bahkan kalian banyak, namun kalian seperti buih mengapung. Dan Allah telah mencabut rasa gentar dari dada musuh kalian terhadap kalian. Dan Allah telah menanamkan dalam hati kalian penyakit Al-Wahan.” Seseorang bertanya: ”Ya Rasulullah, apakah Al-Wahan itu?” Nabi shollallahu ’alaih wa sallam bersabda: ”Cinta dunia dan takut akan kematian.” (HR Abu Dawud 3745)

Ada beberapa pelajaran penting yang dapat kita tarik dari hadits ini:

Pertama, Nabi shollallahu ’alaih wa sallam memprediksi bahwa akan tiba suatu masa dimana orang-orang beriman akan menjadi kumpulan manusia yang menjadi rebutan ummat lainnya. Mereka akan mengalami keadaan yang sedemikian memprihatinkan sehingga diumpamakan seperti suatu porsi makanan yang diperbutkan oleh sekumpulan pemangsa. Artinya, pada masa itu kaum muslimin menjadi bulan-bulanan kaum lainnya. Hal ini terjadi karena mereka tidak memiliki kemuliaan sebagaimana di masa lalu. Mereka telah diliputi keinaan.

Kedua, pada masa itu muslimin tertipu dengan banyaknya jumlah mereka padahal tidak bermutu. Sahabat menyangka bahwa keadaan hina yang mereka alami disebabkan jumlah mereka yang sedikit, lalu Nabi shollallahu ’alaih wa sallam menyangkal dengan mengatakan bahwa jumlah muslimin pada waktu itu banyak, namun berkualitas rendah.

Hal ini juga dapat berarti bahwa pada masa itu ummat Islam sedemikian peduli dengan kuantitas namun lalai memperhatikan aspek kualitas. Yang penting punya banyak pendukung alias konstituen sambil kurang peduli apakah mereka berkualitas atau tidak. Sehingga kaum muslimin menggunakan tolok ukur mirip kaum kuffar dimana yang banyak pasti mengalahkan yang sedikit. Mereka menjadi gemar menggunakan prinsip the majority rules (mayoritas-lah yang berkuasa) yakni prinsip yang menjiwai falsafah demokrasi modern. Padahal Allah menegaskan di dalam Al-Qur’an bahwa pasukan berjumlah sedikit dapat mengalahkan pasukan musuh yang jumlahnya lebih besar dengan izin Allah.

"Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS Al-Baqarah ayat 249)

Pada masa dimana muslimin terhina, maka kuantitas mereka yang besar tidak dapat menutupi kelemahan kualitas. Sedemikian rupa sehingga Nabi shollallahu ’alaih wa sallam mengumpamakan mereka seperti buih mengapung. Coba perhatikan tabiat buih di tepi pantai. Kita lihat bahwa buih merupakan sesuatu yang paling terlihat, paling indah dan berjumlah sangat banyak saat ombak sedang bergulung. Namun buih pulalah yang paling pertama menghilang saat angin berhembus lalu menghempaskannya ke udara.

Ketiga, Nabi shollallahu ’alaih wa sallam mengisyaratkan bahwa jika ummat Islam dalam keadaan terhina, maka salah satu indikator utamanya ialah rasa gentar menghilang di dalam dada musuh menghadapi ummat Islam. Artinya, sesungguhnya Nabi shollallahu ’alaih wa sallam lebih menyukai ummat Islam senantiasa berwibawa sehingga disegani dan ditakuti musuh. Dewasa ini malah kita melihat bahwa para pemimpin berbagai negeri berpenduduk mayoritas muslim justru memiliki rasa segan dan rasa takut menghadapi para pemimpin kalangan kaum kuffar dunia barat. Alih-alih mengkritisi mereka, bersikap sama tinggi sama rendah saja sudah tidak sanggup. Sehingga yang kita lihat di panggung dunia para pemimpin negeri kaum muslimin menjadi –maaf- pelayan jika tidak bisa dikatakan anjing piaraan pemimpin kaum kuffar. Mereka menjulurkan lidah dengan setia mengikuti kemauan sang majikan kemanapun mereka pergi. Padahal Allah menggambarkan kaum muslimin sebagai manusia yang paling tinggi derajatnya di tengah manusia lainnya jika mereka sungguh-sungguh beriman kepada Allah.

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS Ali Imran ayat 139)
Readmore »» Baca selanjutnya...